Selama ini ada kesan, ketika anak belajar dia seolah-olah menjadi objek kurikulum. Dengan kata lain, kegiatan belajar-mengajar yang selama ini diselenggarakan bukan menjadikan kurikulum itu untuk anak, tetapi bahkan sebaliknya, yaitu anak untuk kurikulum.

Akibatnya, terjadilah kegiatan belajar yang “memaksa” anak untuk menyesuaikan dengan kurikulum. Idealnya, memang, kurikulumlah yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan setiap anak. Anak-anak diberi hak untuk memiliki kurikulum yang ingin diikutinya

Homeschooling menjadikan anak didik sebagai subjek belajar. Anak didik dapat memilih materi pelajaran yang disukai dan ingin dipelajarinya. Seto Mulyadi

Melalui homeschooling, anak-anak benar-benar diberi peluang untuk menentukan materi-materi yang ingin dipelajarinya. Anak-anak menjadi subjek dalam kegiatan belajar. Bahkan, bukan hanya materi pelajaran yang dapat dipilih oleh anak, gaya belajar si anak apakah dia tipe somatis/kinestetis, auditif, visual atau intelektual – benar-benar dapat dilayani. Dengan menjadikan anak sebagai subjek dalam belajar, belajar yang diselenggarakan si anak pun dapat berlangsung secara nyaman dan menyenangkan

Homeschooling dapat dimanfaatkan untuk mengembalikan anak yang semula menjadi objek belajar ke subjek belajar.

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn