Homeschooling; sebagai orangtua, terutama yang masih memilki anak usia sekolah, Parents tentu sudah sering istilah tersebut. Sebuah model pendidikan yang sering kali kita pahami sebagai model pendidikan alternatif di luar pendidikan konvensional.

Sayangnya, Homeschooling masih sering dipahami dengan salah. Banyak yang beranggapan bahwa Homeschooling adalah memindahkan pelajaran sekolah yang sesuai kurikulum ke dalam rumah. Kenyataannya, cakupan Homeschooling lebih luas dari yang kita pahami atau bayangkan.

Homeschooling sebagai perspektif pendidikan yang berbeda

Biasanya, ketika bicara pendidikan yang berada dalam benak kita adalah sebuah institusi sekolah pada jenjang apa pun itu. Gaung pendidikan sebagai pengantar masa depan yang lebih baik, membuat kita melihat sekolah sebagai satu-satunya jalan dan model pendidikan yang akan mengantar anak-anak kita menuju masa depan.

Pandangan ini kemudian menjadikan bahwa apa pun yang ada di sekolah merupakan hal yang baik. Proses penjenjangan, ijazah, cara berpakaian, rapor, ranking, cara belajar hingga kebijakan sekolah adalah hal yang paling benar dan terbaik bagi  masa depan yang gemilang.

Sementara fakta yang terjadi di dunia nyata justru sebaliknya. Setiap anak adalah berbeda satu dengan yang lain. Karena itu pula mereka juga membutuhkan metode pendidikan yang berbeda.

Tidak semua anak cocok untuk duduk di bangku sekolah dengan manis. Ada sebagian anak yang setiap detik mereka seolah selalu ingin bergerak, menyentuh, merasakan dan mencoba. Mereka belajar hanya dengan mendengar, atau mencoba; sehingga duduk manis di kelas seolah siksaan untuk anak tipe pembelajar ini.

Minat setiap anak pun berbeda; ada yang lebih suka mengutak-atik angka, kata bahkan berkreasi dengan aneka warna. Wajar jika mereka juga butuh dukungan yang berbeda untuk setiap bakatnya tersebut.

Leave a Comment