Oleh Sindhi Aderianti | 15 Jul 2022

Bunda sering dibuat tak berkutik menghadapi anak tantrum? Terlebih ketika tantrum, si Kecil jadi sulit dibujuk hingga tak ragu menunjukkan berbagai perilaku agresif di depan umum.

Lalu, apa yang harus dilakukan ketika anak tantrum? Pertama, coba tarik napas dan hembuskan perlahan untuk tenangkan diri. Bunda tidak sendiri, kok! Ada ribuan orang tua lain di seluruh dunia yang juga mengalaminya.

Yuk, baca terus artikel ini untuk mengetahui apa penyebab tantrum pada anak supaya bisa menghadapinya dengan bijak.

Anak Tantrum, Normal atau Tidak?

Tantrum sebenarnya merupakan bagian dari proses perkembangan emosional anak yang normal. Menurut buku Temper Tantrums, diperkirakan sekitar 20% batita tantrum setidaknya sekali dalam sehari.

Umumnya, tantrum dialami anak usia 1-3 tahun. Bertepatan dengan kemampuan berbahasa si Kecil yang baru mulai berkembang.

Tantrum adalah cara si Kecil untuk menunjukkan dirinya sedang marah, jengkel, sedih, atau tidak nyaman.

Pada rentang usia ini, anak memang belum bisa mengungkapkan apa yang mereka inginkan, rasakan, atau butuhkan dengan kata-kata. Karena merasa sulit berkomunikasi, anak tambah merasa kewalahan dan bingung dengan keadaannya sehingga emosinya makin meluap.

Namun, fase tantrum pada anak hanya bersifat sementara. Seiring kemampuan berbicaranya nanti meningkat, tantrum biasanya akan mereda sendiri.

Frekuensi tantrum juga mulai berkurang ketika anak sudah makin mampu mengelola emosinya dengan baik. Tantrum biasanya akan berhenti dan hilang pada usia 4 tahun.

Baca Juga: 4 Perkembangan Emosi Anak Berdasarkan Usia

Apa Penyebab Anak Tantrum?

Mengapa anak tantrum? Tantrum pada anak tidak terjadi begitu saja.

Tantrum biasanya disebabkan oleh rasa kesal, marah, dan frustasi yang dipicu oleh beragam faktor. Faktor penyebab anak tantrum antara lain:

  • Kelelahan dan mengantuk, tapi tidak bisa istirahat. Hal ini akan mempersulit anak untuk tetap tenang.
  • Lapar, tantrum juga terkait dengan rasa lapar karena perut kosong membuat si Kecil stres.
  • Situasi yang meresahkan atau membuat tidak nyaman, misalkan berpisah dengan orang tua, bertengkar dengan saudara, hingga rebutan mainan dengan teman.
  • Menginginkan sesuatu. Tantrum bisa jadi cara yang dibuat-buat oleh anak-anak untuk membuat orang lain memenuhi keinginannya.
  • Ketakutan, misalkan karena berhadapan dengan hewan yang menakutkan baginya, melihat tontonan menyeramkan, atau bertemu dengan orang asing.
  • Perubahan situasi, seperti berada di ruangan yang tiba-tiba ramai dan berisik, tidak betah lama-lama di ruangan sempit, atau merasa kepanasan.
  • Pola asuh yang terlalu memanjakan. Apabila kemauan si Kecil selalu dipenuhi, ia akan menunjukkan amarah ketika sesekali waktu keinginannya tidak dituruti.

Bagaimana Ciri Anak Tantrum?

Anak tantrum biasanya akan menunjukkan sejumlah perilaku agresif. Tindakan agresif ini terjadi karena anak sulit mengungkapkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan.

Adapun ciri-ciri anak tantrum meliputi:

  • Merengek
  • Berteriak atau menjerit-jerit
  • Menangis meraung
  • Berguling-guling di lantai
  • Menendang-nendang
  • Menjatuhkan badan
  • Memukul
  • Melarikan diri

Sampai batas tertentu, tantrum adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang anak. Namun, Bunda juga perlu bisa membedakan mana tantrum yang masih normal dan mana yang sudah melebihi batas.

Sebab dalam beberapa kasus, tantrum yang ekstrim bahkan bisa sampai merisikokan keselamatan anak. Berikut ciri-ciri tantrum yang cenderung berlebihan:

  • Sangat sering mengamuk.
  • Amukan berlangsung lama.
  • Saat tantrum, anak cenderung melukai diri sendiri atau orang lain. Misalkan dengan memecahkan gelas atau melempar barang.
  • Menunjukkan aksi yang lebih berisiko seperti menahan napas atau muntah

Jika ciri-ciri anak tantrum dirasa sudah berlebihan seperti itu, jangan ragu untuk segera berkonsultasi pada dokter ya, Bun. Tanda di atas bisa menjadi risiko gangguan emosional pada anak.

Cara Mengatasi Anak Tantrum Tanpa Emosi

Anak tantrum bisa terjadi dimana saja, bahkan di depan umum. Dalam situasi seperti ini, orangtua sering kali panik hingga terpancing emosi karena takut si Kecil mengganggu kenyamanan orang lain.

Kunci utamanya adalah, Bunda jangan sampai ikut terbawa emosi. Sebab, melihat Bundanya yang panik hanya akan membuat anak makin takut dan tantrum semakin menjadi.

Lalu, bagaimana cara mengatasi anak tantrum tanpa emosi? Tarik napas dalam, dan buang perlahan terlebih dahulu.

Selanjutnya, Bunda atau Ayah bisa melakukan beberapa cara berikut ini:

  1. Bawa ke tempat sepi 

Jika anak tantrum di depan umum, hindari bernegosiasi dengan si Kecil. Segera bawa anak ke tempat yang aman dan jauh dari keramaian, seperti mobil atau toilet.

Di tempat sepi, anak bisa mengeluarkan emosinya tanpa merasa risih dilihat banyak orang. Bunda pun tak perlu takut orang lain merasa terganggu karena hal ini.

  1. Validasi emosinya

Menghadapi anak yang sedang tantrum tidak bisa buru-buru. Anak yang tantrum akan sulit ditenangkan apalagi diminta stop menangis, karena ia merasa perasaannya belum dimengerti dengan baik. Hal ini justru akan membuat emosi si Kecil semakin meluap.

Meski Bunda mungkin juga merasa gusar dan sedih melihat si Kecil, biarkan dulu anak menangis untuk meluapkan emosinya. Namun, bukan berarti jadi mengacuhkannya, ya!

Pastikan si Kecil tahu bahwa fokus dan perhatian Bunda hanya tertuju kepadanya.

Baca Juga: Tips Jitu Kembangkan Karakter Positif Anak

  1. Peluk anak

Salah satu cara paling efektif untuk menenangkan anak yang sedang mengamuk adalah dengan pelukan hangat dan belaian sayang. Ini bisa jadi cara berkomunikasi dengan anak untuk menunjukkan bahwa Bunda peduli memahami perasaannya.

Peluk anak sampai tangis dan teriakannya berhenti. Pelukan juga menjadi cara Bunda memberikan rasa aman pada si Kecil.

Sebaiknya jangan mengatakan apapun selama mendekap si Kecil. Cukup elus atau belai punggungnya agar amarahnya mereda.

  1. Alihkan perhatian

Sebelum melakukan cara mengatasi anak tantrum ini, kenali dahulu penyebab mengapa anak tantrum saat itu. Apakah perhatiannya bisa dialihkan atau tidak?

Sebab, ada kondisi di mana anak tantrum tidak bisa terdistraksi, karena hanya perlu ditenangkan. Contohnya ketika ia merasa benar-benar lelah dan ingin tidur.

Bila anak tantrum karena keinginannya tidak dipenuhi, Bunda masih bisa mencoba alihkan perhatian anak pada hal lain.

Sebagai contoh, memberi makanan favorit, gambar dan musik yang disukai, atau menceritakan hal-hal menarik. Pengalihan ini bertujuan agar anak lupa dengan hal yang membuatnya tantrum.

  1. Hindari berteriak

Menghadapi anak tantrum memang sangat menguji kesabaran, ya Bun? Namun, usahakan tidak terpancing emosi hingga ikut berteriak. Selain menjadi pusat perhatian banyak orang, meneriaki si Kecil hanya akan membuatnya semakin agresif dan meniru perilaku tersebut ke depannya.

  1. Tidak mengalah

Emosi anak bisa dengan mudah membuncah saat ia menginginkan sesuatu, seperti dibelikan mainan atau berlama-lama di playground. Akhirnya, tantrum pun menjadi ‘trik’ agar keinginan tersebut dipenuhi.

Dalam hal ini, orangtua perlu bersikap tegas dan konsisten sehingga si Kecil paham kalau yang dilakukannya ini tidak baik. Sebisa mungkin jangan ‘mengalah’ saat menghadapi anak tantrum ya, Bun.

Memberikan apa yang ia inginkan saat anak tantrum hanya akan membuat si Kecil beranggapan bahwa perilakunya ini benar. Maka nantinya setiap menginginkan sesuatu, tantrum dijadikan si Kecil kebiasaan agar keinginannya dipenuhi.

  1. Beri penjelasan ketika anak mulai tenang

Setelah anak tenang, Bunda bisa melakukan cara menghadapi anak tantrum yang terakhir ini dengan mengajaknya berkomunikasi menggunakan bahasa yang baik dan lembut. Tanyakan hal yang membuat si Kecil menangis.

Bila ia meminta sesuatu yang kurang baik, jelaskan mengapa hal tersebut dilarang. Lalu, tawarkan hal atau kegiatan lain untuk menggantikannya.

Demikian ulasan mengenai anak tantrum yang dapat disampaikan. Kesimpulannya, Bunda tak perlu khawatir lagi jika anak tantrum.

 

Leave a Comment