Rendahnya asupan makanan bergizi, nutrisi, vitamin, dan buruknya  pengolahan pangan yang terjadi dalam waktu yang lama membuat sistem kekebalan tubuh berkurang.

 

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan  oleh  masalah gizi pada periode tersebut, dalam  jangka pendek  adalah terganggunya perkembangan otak,  kecerdasan, gangguan  pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam  tubuh. Sedangkan dalam  jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan  adalah  menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan  tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya  penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif  yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi

 

Indonesia menjadi  Negara dengan jumlah kasus stunting terbesar kedua se-Asia tenggara setelah timor leste. Berdasarkan peraturan dari menteri Repunlik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013 menyatakan penyebab yang berdampak langsung timbulnya stunting adalah  nutrisi dan asupan makanan yang kurang  mulai dari sebelum kehamilan sampai 1000 hari pertama kehidupan serta kemungkinan infeksi karena sanitasi buruk.

 

Gejala stunting bisa dilihat dari berbagai aspek seperti berat badan tidak naik atau malah terjadinya penurunan, berat anak lebih rendah disbanding anak seusianya, tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya, pertumbuuhan tulang terhambat, perkembangan otak terhambat, dan anak lebih mudah terkena infeksi. Faktor penyebab stunting ini dapat disebabkan oleh faktor langsung maupun tidak langsung.

 

Penyebab langsung dari kejadian stunting adalah asupan gizi dan  adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak langsungnya adalah pola asuh, pelayanan  kesehatan, ketersediaan pangan, faktor budaya, ekonomi dan masih banyak lagi faktor lainnya. Upaya pencegahan stunting sudah banyak dilakukan di negara-negara berkembang berkaitan dengan gizi pada anak dan keluarga. WHO menjabarkan bebrapa upaya pencegahan kasus stunting, yaitu :

Memonitor strategi untuk memperkuat pertanian keluarga, dapur umum dan strategi untuk meningkatkan makanan sekolah dan promosi kebiasaan makanan sehat.

 

Pemantauan berkelanjutan dari status gizi anak melalui pelayanan kesehatan.

Menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Edukasi kesadaran orang tua terhadap asupan ASI (selama 6 bulan)

Perbaikan gizi masyarakat terutama pada ibu pra hamil, ibu hamil dan anak.

Penguatan kelembagaan pangan dan gizi.

Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat.

Pemantauan terhadap keanekaragaman pangan.

 

Kreator: Muhammad Nizham Baihaqi (www.kompasiana.com)

Leave a Comment