Impian adalah hal lumrah yang dimiliki oleh semua manusia dimuka bumi ini. Banyak sekali orang tua yang bermimpi sesuatu pada anak — anaknya. Contohnya saja, ketika bibi saya berharap anaknya menjadi seorang guru sama seperti dirinya. Atau seorang gadis yang saya kenal sewaktu sekolah dulu, sangat berniat untuk menjadi seorang lulusan hukum untuk kemudian berprofesi jaksa seperti ayahnya. Saya sendiri, awalnya diminta oleh orang tua untuk menjadi seorang TNI atau Polisi. Awalnya, saya tidak punya alasan untuk menolak keinginan itu, tapi kemudian saya melakukan tindik di telinga, sehingga secara bersamaan impian orang tua untuk saya pupus karena secara fisik saya sudah tidak dapat mendaftar menjadi calon perwira saat itu.

 

Ayah saya belum patah arang, kali ini saya diminta untuk menjadi seorang sarjana hukum, persuasi kehidupan pengacara yang hebat mentereng adalah salah satu ucapan ayah kala itu. Lagi — lagi, meski bidang hukum adalah salah satu hobi, tapi saya sama sekali tidak berniat untuk menjadikannya profesi.

 

Meskipun akhirnya saya menyadari satu hal, bahwa kebanyakan anak yang berprofesi sama dengan orang tuanya, terkadang bukanlah tuntutan orang tua. Terkadang memang si anak berkeinginan seperti itu. Benarkah demikian?

 

Faktanya, dalam lingkup keluarga, dari pengalaman seorang teman yang kini menjadi dokter misalnya. Orang tuanya memang tidak pernah secara spesifik memintanya untuk mengambil sekolah kedokteran. Akan tetapi, cerita — cerita yang sudah ditanamkan sejak kecil membuat pria yang awalnya ingin menjadi seorang musisi itu berubah haluan mendapatkan gelar spesialis jantung saat ini.

 

Pada dasarnya, keinginan orang tua pasti bukanlah untuk keburukan masa depan anak. Orang tua pastinya lebih berpengalaman, sehingga mengarahkan anak menjadi ini dan itu, terkadang seperti sudah tugas bagi mereka agar anak bisa hidup lebih baik kedepannya. Namun, terkadang orang tua merasa dirinya punya control penuh terhadap impian anak, sampai — sampai mengabaikan keinginan anak itu sendiri.

 

Sehingga tak jarang kita menemukan kasus, anak yang akhirnya memberontak. Hasilnya setelah lulus kuliah, ijazahnya dilempar ke wajah orang tua atau dibakar dihadapan orang tua. Karena pada dasarnya, yang mereka lakukan adalah menuruti keinginan orang tua tersebut, bukan keinginannya. Atau yang lebih parah, tak jarang kasus bunuh diri mahasiswa karena merasa diri tidak sanggup menjalani pendidikan yang diarahkan orang tuanya padanya.

 

Meminta anak mengejar impian orang tua bukanlah sebuah kesalahan. Hanya bila si anak berpendapat sama dengan impian tersebut. Masalahnya terkadang, anak — anak yang bukan hanya ditumbuh kembangkan didalam rumah tapi juga oleh social bisa saja punya keinginan berbeda dari orang tuanya. Selama keinginan tersebut tidak menyalahi norma hukum, bukankah seharusnya orang tua mendukung keinginan anak — anaknya? Bukannya justru membawa keinginan sang anak dalam sebuah perdebatan, dimana sudah dipastikan si anak akan selamanya kalah dalam beradu pendapat.

 

Semoga, sebelum akhirnya menyarankan (memerintahkan?) anak untuk menjadi A atau B, para orang tua bisa lebih sensitive dengan mendengar keinginan anak terlebih dahulu. Orang tua tidak bisa selamanya menjadi king maker¬†bagi anak — anaknya, terkadang orang tua harus puas duduk dibangku penonton sebagai pendukung.

 

Kreator: Dan Jr

 

 

 

Leave a Comment