Era teknologi mau tidak mau merambah kesegala aspek kehidupan manusia. Semua serba teknologi, mulai dari bangun tidur hingga kembali bangun. Teknologi telah meresap kedalam jiwa generasi milaneal ini. Tahukah Ayah Bunda, teknologi juga telah merenggut perkembangan emotional intelligence anak. Teknologi telah memberikan efek buruk terhadap perkembangan emosi anak.

Bagaimana bisa?

Seorang Psikolog bernama Sean Grover L.C.S.W menyatakan bagaimana teknologi menghambat perkembangan emosi anak seperti dilansir dari Psychologytoday.com berikut ini:

Menghambat Kewaspadaan Diri

Self Awareness anak berkembang seiring interaksinya dengan orang lain. bagaimana ia belajar menghindari tertabrak anak lain, menghindari cipratan air saat bermain, atau menghindari gigitan semut saat bermain ditaman. Mungkin pada gdget memang ada game yang menawarkan permaian menghindar dari serangan seperti game bertema peperangan. Namun, mereka tidak merasakan sentuhannya secara langsung. Mereka memang tumbuh reaktif tapi tidak reflektif.

Melemahkan Pengendalian Diri

Sudah banyak penelitian yang menyatakann teknologi telah melemahkan pengendalian diri anak. mereka mudah frustasi, tidak bertoleransi, dan mudah terprovokasi. Sebab ketika anak berinterakdi dengan gadget maka ketika ia marah dengan gadget, si gadget hanya benda mati yang tak berekspresi. Tak bisa menahan serangan pun tidak bisa diajak berinteraksi layaknya manusia. Mereka labil secara emosi mudah membully, mudah marah, dan mudah stress.

Kehilangan Kemampuan Sosial

Teknologi membuat anak kehilangan kemampuan sosial. Ini sudah pasti. Bagaimana mereka akan bersosialisasi jika hanya berada didepan gadget. Meerekamungkin punya grup media sosial sebagai media interaksi. Namun, ini melemahkan interaksi sosial secara nyata. Dunia maya memiliki banyak rahasia dalam arti ada banyak kepalsuan didalamnya. Seseorang yang nampak baik di media sosial belum tentu seperti itu adanya didunia nyata bukan?

Kehilangan Rasa Empati

Meski banyak postingan mengundang empati dimedia sosial, misalnya postingan tentang anak yang kekurangan atau meninggalnya seseorang bisa menggali empati orang lain. Tapi mereka adalah anak-anak, ketika layar menggantikan posisi keluarga dan teman maka simpati maupun empati hanya sebatas didinding layar kecil itu saja. Selebihnya, mereka akan menjalani kehidupan seperti tida terjadi apa-apa.

Kehilangan Motivasi Hidup

Kehidupan nyata tak seindah media sosial bukan? Jika anak bisa bergaya dengan berfoto dimobil tetangga maka didunia nyata itu bukan miliknya. Memang terlihat bagus dimata perserta penikmat teknologi tapi tetap saja itu bukanlah kehidupannya. Ia larut akan kepalsuan pujian orang yang hanya melihatnya dimedia sosial. Tapi merasa rendah ketika terlihat bagaimana keadaannya yang sesungguhnya. Bahkan ada yang sampai bunuh diri live!

Lalu apakah anak harus dihindarkan dari teknologi. Tentu saja tidak? Kita hidup diera mileneal dimana segalanya berkaitan dengan teknologi. Tapi cobalah untuk tetap menggali sisi kemanusiaan dari anak. cara yang terbaik adalah dengan membantasi interaksi anak dengan teknologi. Ajak anak bermain dengan teman, berinteraksi, ikut playgrup, atau sejenis kegiatan sosial lainnya agar emotional intelligence anak tetap terjaga.

Leave a Comment